Minggu, 02 Juni 2013

cerpen pemula :D





DUKA DI HARI SABTU
Hari sabtu..seperti biasanya aku bergegas pergi kesekolah, karena takut terlambat. Setiba di sekolah aku mengikuti peajaran seperti biasa.
Kriiing, kriiing, kriiiing..Horee !!akhirnya bel berbunyi, guru yang berada di kelas Newton  beranjak dari tempat duduknya, dan para siswa pun berhamburan keluar kelas.  Kebetulan pada hari ini aku mengikuti tes ekonomi, tetapi sebelumnya, aku di ajak oleh teman- temanku untuk pergi kegazebo. Aku pun beranjak dari tempat duduk, dan memastikan bahwa tes  belum di mulai, setelah itu aku, dan teman-teman pergi ke gazebo, katalyna yang tadinya meminjam laptopku, lalu menyimpannya di dalam tas. Lalu kami pun berangkat.
Setelah membeli apa yang kami inginkan, kami pun kembai kesekolah. Setiba di kelas, aku sangat kaget karena laptop yang tadinya berada di kelas kini telah tiada.Aku pun meminta kepada teman-teman untuk mencarikan laptopku, karena aku ingin mengikuti tes ekonomi.Aku sangat tak tenang mengikuti tes tersebut karena memikirkan laptopku yang telah tiada.
Pukul 5 sore, aku dan teman-teman belum juga mendapat kan laptopku.
“Ada kapa’ yang pinjamki laptopnu, tapi tidak bilang-bilangi”, Sheryl berkata.
“Mungkin di’ ??jadi, bagaimana ma’ ini ?? pulangma ?” kataku yang sedang kebingungan. 
“ Iya pale”, besokpi lagi di cariki.
“ Iya, temanika nah!!”
Sesampai di rumah, aku sangat ketakutan ketahuan oleh ibuku.Aku berharap semoga ibu tak menanyakan tentang laptopku.Aku takut mengatakan itu kepadanya.
***
Keesokan harinya, aku  belum menemukan laptopku, aku sudah pasrah.
“ Hey, bagaimana kalau kita meminta bantuan ibu shinta, siapa tau dia mengetahui keberadaan laptopmu sekarang”,Sheriyl berkata.
“ Iya, terserah kamu saja, asal kita bisa mendapatkan laptopmku kembali kataku yang takut dan pasrah dengan semua ini.
Berbagai carapun telah kulakukan, tetapi aku masih saja belum menemukan laptopku  tetapisemua itu hanya sia-sia.Ibuku pun teah mengetahui semua itu, dan memarahiku, aku hanya bisa diam, karena memang aku yang salah. Aku sangat teledor, aku menyesal dengan semua ini, tetapi apa boleh buat itu semua telah terjadi.
***



Seminggu setelah kehilangan laptopku, yaitu tepat pada hari sabtu.Hari ini, kelas Newton hendak melakukan penelitian biologi tentang tumbuhan melalui mikroskop, aku heran melihatGlory semangat sekali mencari bunga yang ingin di teliti olehnya, ia melakukan hal aneh dan tak pernah ku duga sebelumnya, yaitu meminta minyak kayu putih kepadaViolin, karena Glory sangat tidak menyukai minyak tersebut.Dan Glory juga meminta bedak kepada Monica, dan lagi-lagi Glory sangat tidak menyukai yang namanya bedak.Glory berbeda dengan cewek lainnya, ia orangnya sangat tomboy, gayanya pun menyerupai cowok, maka dari itu ia tidak menyukai bedak.
Glory ingin pergi ke tempat Foto copy dan ia pun meminta kunci motorku dengan sikapnya yang tomboy.
“Ocit, kunci motornu dulue!” katanya.
“Inieh, pake uangnu moh dulu nah bayarki itu foto copy” kataku.
“Iya, pulangka dulu pae di rumahku ambil uang”.
“Okay..
Setibanya disekolah,seteah pulang kerumahnya,  ia meminta kembali kunci motor kepadaku. Tetapi sebenarnya,ia sama sekali belum mengembalikannya kepadaku.
“Ocit, kunci motor!”
“Kukira ada sama kau..”
“Oh iya di’???”
“Pergi meka pale’ nah..”
Aku dan teman-teman sangat heran melihat tingkah Glory.Tededetttt, tededeeet, handphonePutry berbunyi.Ternyata itu telfon dari Shinta yang mengabarkan bahwa Glory kecelakaan, kami semua pun panic, dan langsung kerumah sakit untuk memastikan keadaannya. Sesampai di UGD, kami melihat Glory yang terbaring di tempat tidur. Ternyata, keadaannya sangat mengkhawatirkan, tubuhnya berlumuran darah, kami hampir tak percaya melihat semua itu.Baru tadi kami melihat senyum keceriaannya tetapi sekarang semua itu telah berubah menjadi sebuah kesediahan.Di tempat itu, ku meihat Ibu Glory tak mampu menahan isak tangisnya, aku dan teman-teman hanya mampu memberi support dan semangat kepadanya.
Dokter pun berusaha menyelamatkan Glory, akan tetapi peralatan dan teknologi yang terbatas di daerahku yaitu Pangkep, akhirnya Glory di rujuk ke Makassar tepatnya di RS Wahidin. Sebenarnya aku dan teman-teman berniat mengantarnya, akan tetapi kendaraan yang tidak ada. Akhirnya, aku dan teman-teman memutuskan untuk menjenguknya esok pagi, karena kebetuan esok adalah hari libur.Kami hanya dapat mendoakan yang terbaik untuk Glory.Kami pulang kerumah masing-masing.


Begitu khawatirnya aku dengan keadaan Glory, aku sampai lupa dengan motorku yang di pakai Glory waktu keceakaan.Aku pun  bergegaske tempat kejadian itu, yaitu didepan Matahari Mas untuk memastikan keadaan motorku, pak polisi lalu meminta STNK kepadaku. Seteah itu, aku lau menelefon ayahku agar dating ke sini untuk mengambil motorku, tetapi ternyata, motorku tidak bisa diambil kata pak polisi nanti hari senin.Saya hanya menyerahkan permasalahan ini kepada ayahku.
Setibaku di rumah, aku langsung memberitahukan kabar itu kepada ibuku, aku sangat takut di marahi olehnya. Tetapi setelah mengatakannya, ibu sama sekali tidak memarahiku, aku sangat kagum kepada ibuku yang begitu sabar menghadapiku.
“Sabarki’ nak, untung bukan kita yang mengalami kejadian itu, dan Allah pasti akan memberikan yang terbaik untuk kita, doakanlah temanmu, semoga ia mendapatkan yang terbaik,” tuturnya.
“Iya, maa..makasih ya maa,” jawabku sambil memeluknya.
***
Fajar yang hendak meninggalkan bumi dan akan berganti menjadi bulan, menandakan hari telah gelap.  Tedeet, tededeeet, tedeett, handphoneku  pun berbunyi. Ternyata itu telefon dari kakak Glory yang mengabarkan bahwa Glory telah tiada, hal itu tak pernah kusangka sebelumnya bagaikan mimpi buruk yang terjadi padaku, baru tadi aku dan teman-temanku bercanda bersamanya, tetapi kini ia telah tiada dan ia begitu cepat di panggil oleh Yang Maha Kuasa. Aku pun mengabarkan kepada teman-temanku’, semua kaget, heran dan tak ada yang percaya dengan berita tersebut.Sama hanya dengan diriku. Untuk membuktikan kabar tersebut aku dan teman-teman pun bergegas kerumah Glory, sesampai di sana ku hanya mendengar isak tangis, kegaduhan-kegaduhan yang tidak jelas yang memengkikkan telingaku.
Niiiiu, niiiiu, niiiiiiiiiuuuuuu, suara ambulance terdengar dari kejauhan, itu pasti Glory, ucapkudalam hati.Ternyata dugaanku benar, beberapa menit kemudian ambulance itu pun sampai di rumah Glory. Aku pun tak mampu menahan  tangisku, semua orang berdatangan untuk melihat jasad Glory. Mulai dari keluarga, teman-teman,kerabat dekat, dan bapak/ibu guru di sekolah. Mereka hanya mampu menangisi kepergian Glory, akupun begitu.
Aku  hanya bisa melihat jasad Glory terbaring tak berdaya. Hanya ada rasa penyesalan di dalam hatiku, mengapa pada saat itu aku meminjamkan motorku kepadanya, tapi semua telah berlalu aku tahu semua itu tak mungkin kembali, ku yakin Allah mempunyai jalan yang lebih baik untuk Glory.  Karena ku tahu jika Glory terbangun dan melihat tangan, kaki, serta lehernya yang patah ia tak mampu menerima dan menjalani hidupnya seperti biasanya, apalagi dia adalah seorang Yudo yang mengandakan fisiknya. Pernah suatu waktu Glory mendapat penghargaan karena kemampuannya dalam bidang Yudo  yaitu dalam rangka Porda Pangkep, berupa emas dan sebuah boneka lumba-lumba. Dan boneka lumba-lumba itu sangat disenangi Glory siapa pun yang memintanya dia tidak akan memberikannya.
Salah satu dari kami yang tak mampu menerima kenyataan ini adalah Via, karena Via sudah sangat akrab dengan Glory, sama halnya dengan Putry, gadis imut yang telah berteman dengan Glory sejak kecil sekaligus teman bangkunya di kelas X Newton.
Malam pun semakin larut aku bersama teman-temanku berpamitan kepada orang tua Glory, akan tetapi ayah Glory sedang berada di Polmas. Jadi, aku dan teman – temanku hanya berpamitan dengan ibu Gory.Saat itu kumelihat ibunya sangat terpukul,  pandangannya hampa, dia hanya mampu menangisi kepergian anaknya, andai nyawa itu dapat ditukar , mungkin ibu Glory lebih memilih untuk menukarkan nyawanya dengan anaknya.
“Nak, maafkanki semua kesalahannya anakku ,” kata ibu Glory sambil memelukku.
“Iye tante, yang sabarki. Mungkin Allah punya jalan yang lebih baik untuk kita semua,”kataku sambil menepuk pundak ibu Glory sebagai tanda  ibu Glory lebih bersabar menghadapinya.
Keesokan harinya, orang-orang pun berdatangan kerumah Glory, semua terdengar olehku hanya lah isak tangis, ayah dan kakak Glory telah tiba dari Polmas, mereka sangat sedih, terlebih kakak Glory karena menurutnya ia adalah kakak yang kurang baik untuk Glory karena diakhir hidup Glory, Glory sedang marah kepada kakaknya, dan ia juga tidak pernah menuruti apa kata Gory adiknya.
Ayah Glory sangat terpukul akibat kematian Glory, ia hanya bisa memeluk boneka lumba-lumba yang sangat di senangi oeh Glory. Kata orang, tadi ia sempat pingsan, karena belum dapat menerima kenyataan bahwa anak kesayangannya telah tiada dan mendahuluinya pulang ke rahmatulah.
Setelah Glory di makamkan, kami semua pun pulang kerumah masing-masing.
Aku masih tidak percaya dengan semua ini, aku merasa ini hanya mimpi buruk dan aku ingin terbangun dari mimpi ini.Ya Allah, mengapa semua ini terjadi padaku ??haah.. Astagfirullah, sabar!! Aku pasti bisa melewati semua ini,  Kataku dalam hati.
Karakteristik cerpen:
Tema               : Kesedihan
Tokoh             : Aku, Glory, Putry, Sheryl, via, Ibuku, Ibu Glory, dan Ayah Glory.
Alur                 : maju
Latar                : sekolah, rumah glory, dan rumah sakit.
Amanat           : terimalah cobaan yang di berikan Allah kepada kita karenadi balik cobaan itu terdapat hikmah yang bisa kita petik.